Selasa, 15 Januari 2013

penerapan ilmu dalam etika



penerapan ilmu dalam etika
Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu
Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral, prinsip-prinsip moral dasar, apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya (ought to), benar (right), dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu, dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk.
Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadang-kadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. Tanggung jawab etis, merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, manjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, dan generasi yang akan datang, serta bersifat universal, karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.
Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. Akan tetapi, menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya.
Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia, tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri.
Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut.
Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai
a.    Bebas Nilai
Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral, bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Dalam hal ini, fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasan-pembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. Menurutnya ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai, yaitu sebagai berikut:
Ø    Ilmu harus bebas dari pengandaian, yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis, idiologis, agama, budaya, dan unsure kemasyarakatan lainnya
Ø    Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri
Ø    Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu, karean nilai etis itu sendiri bersifat universal
Dalam pandangan ilmu bebas nilai, eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri, seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni.
b.    Tidak Bebas Nilai
Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai, ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai, kepentingan-kepentingan, baik politis, ekonomis, sosial, religious, dsb.
Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing
Ø    Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis, ilmu ini menyelidiki gejala-gejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia.
Ø    Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai sesamanya, memperlancar hubungan sosial.
Ø    Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri.
Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu, yakni nilai relasional antara manusia denagn alam, manusia denagn manusia, dan nilai penghormatan terhadap manusia.
Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika.
Pendapat pertama, mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah, logis, dan berbicara tentang fakta semata.
Pendapat kedua, menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan, seperti pada bidang penyelidikan, putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu, tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan, namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan.
Pendapat ketiga, menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan, sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia.
Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran, bukan nilai. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi, etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia.
Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. Apabila diperhatikan dengan seksama. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu.
 Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan
Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan , dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini.
Bila kata “kebebasan” dipakai, yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Supaya terdapat kebebasan, harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar.
Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom, tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan.
Tanggungjawab etis, merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggungjawab pada kepentingan umum, kepentingan pada generasi mendatang, dan bersifat universal . Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.
Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan, tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia.
Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya, karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik, lebih nyaman, lebih lama dalam menikmati hidupnya. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia, tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya.
ILMU PENGETAHUAN
A. PENGERTIAN
Setiap manusia yang hidup selalu terkait dengan pengetahuan, sebab bagaimanapun manusia selalu menemui problema yang problema itu harus dipecahkan dengan pengetahuan yang dia miliki atau dengan apa yang dia ketahui.
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap yang kita ketahui tentang objek tertentu, termasuk ke dalamnya ilmu. Jadi ilmu merupakan bagian dari pe ngetahuan yang diketahui oleh manusia di samping ber­bagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama.
Menurut Hatta, pengetahuan bisa didapat dari pengalaman dan keterangan dengan pembuktian untuk me­nemukan kausalitasnya. Yang pertama disebut dengan pe ngetahuan dan yang kedua disebut ilmu. Ilmu senantiasa mengemukakan pertanyaan tentang bagaimana duduknya sesuatu dan apa penyebabnya.
Ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausalitas dalam suatu golongan masa­lah yang sama tabiatnya baik menurut kedudukannya yang tampak dari luar maupun menurut bangunnya dari  dalam.
Menurut sejarahnya, manusia dalam mengatasi problema kehidupannya dengan pengetahuan yang didapat dari pengalamannya, baru kemudian semakin tinggi kebudayaan manusia lahirlah apa yang disebut ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan merupakan langkah akhir dari perkembangan mental manusia dan merupakan pencapaian tertinggi dari kebudayaan manusia. Konsepsi tentang ilmu muncul sesudah tampilnya para pemikir besar Yunani sesudah Pythagoras dan para atomis, Plato dan Aristote­les (Ernst Cassirer, 1987, p. 315). Pada mulanya yang disebut ilmu itu sering disamakan dengan science. Science berasal dari scientia (Latin) yang ber­arti knowledge (The Liang Gie, 1984, p. 13). Sebetulnya orang membedakan istilah knowledge yang diartikan de­ngan pengetahuan dan science dengan pengetahuan ilmiah. Tetapi sekarang istilah science lebih cenderung dipakai untuk ilmu kealaman.
Menurut The Liang Gie, bahwa dalam penelaahan kepustakaan barat ada limacakupan yang disebut ilmu (science). Pada abad XVII science sering berarti apa sa­ja yang harus dipelajari misalnya menjahit atau menung­gang kuda. Abad berikutnya menunjukkan kepada pengeta­huan sistematis. Pengetahuan ini terus meluas hingga termasuk wetenschap(akumulatif knowledge) dan geis- teswissenschaften(humanitis). Pada perkembangan berikutnya timbul pengertian natural science,di sini diba­tasi untuk gejala alam, benda-benda dan saling hubungannya. Dalam perkembangan natural science pada bentuk spesifik ilmu, maka timbul denotasi keempat yang meru­juk kepada ilmu-ilmu tertentu. Setelahnya timbul denotasi kelima yang menunjuk pengertian sciencesecara kolektif, di mana pada saat orang membicarakan metode il­mu dan pemikiran ilmiah membutuhkan membicarakan semua cabang ilmu.
Dalam mengungkap ilmu, orang seringkali bermula melihatnya dari induk ilmu yakni filsafat, karena dilatar belakangi bahwa yang disebut ilmu pada awalnya tidak lain adalah ilmu filsafat. Dari filsafat yang bersifat umum kemudian lahir ilmu yang bersifat khusus seperti filsafat alam yang mempelajari benda-benda, gejala-geja­la alam, inilah akhirnya yang menjadi natural science.
Dalam membicarakan ilmu pengetahuan terdapat ba­nyak penafsiran.
Pertama, istilah pengetahuan itu dapat disamakan penger­tiannya dengan wetenschapyang punya pengertian seluas-luasnya karena mencakup segenap pengetahuan manusia yang manapun juga yang tersusun dan terkumpul secara sistema­tik.
Kedua, istilah ilmu pengetahuan dapat juga diartikan se­bagai apa yang dalam bahasa Inggris disebut science ya­itu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang bahan-bahannya terdapat di luar diri manusia.
Ketiga, istilah ilmu pengetahuan dapat juga dipakai un­tuk menunjukkan pada suatu kumpulan pengetahuan yang se­sungguhnya sudah siap pakai atau applied science.
Menurut Soejono, pengertian ilmu diatas mencakup pengertian yang seluas-luasnya sehingga meliputi ilmu pengetahuan kefilsafatan, ilmu pengetahuan teoritik positif atau ilmu pengetahuan teoritik-empirik (science)dan ilmu pengetahuan terapan.
Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan ilmiah tentang alam – termasuk dirinya – dengan tujuan untuk memperoleh kebenaran.
Kebenaran dapat dipahami bila sesuatu bersifat koheren dan koresponden, yang keduanya dipergunakan da­lam cara berpikir ilmiah (Jujun, 1987, p. 57). Meskipun ada teori pragmatis, tetapi tampaknya hanya berkaitan dengan waktu, yakni apakah suatu kebenaran koherensi dan korespondensi masih fungsional, jadi a­gak di luar metode ilmiah.

B. FUNGSI ILMU PENGETAHUAN
Proses kegiatan ilmiah manusia berpuncak dengan ditemukannya ilmu pengetahuan yakni hasil dari proses sistematis, rasional dan metodologis dari usa­ha manusia untuk mengungkap rahasia alam. Ilmu tak bisa terpisah dari objeknya, maka ke­giatan menerangkan dan meramalkan, menerangkan dan memahami bagian penting dari kegiatan pokok sebuah ilmu.
Dalam usaha menerangkan dan meramalkan, maka bagian logis dari yang empiris saling kait mengait akhirnya perjalinan antara yang teoritis dan yang empiris memuncul juga dalam berbagai penjelasan yang harus dibedakan tentang apa sebetulnya yang mau dite­rangkan, hasilnya:


keterangan logis sebetulnya hanya rengrengan formal, suatu kalkulus    :
keterangan sebab akibat (kausal) : sebuah merupakan tafsiran mengenai sebuah proses alamiah timbul pertanyaan mengenai determinasi  tidaknya segala gejala ada yang menganggap keterangan itu sebagai kategori mengerti yang mendasar dan berlaku umum.
keterangan final: menerangkan sebuah proses berdasarkan tujuan yang ingin diraih. Dipergu­nakan terutama pada ilmu-ilmu kehidupan. (Ma­ta adalah anggota badan untuk melihat, dan seterunya). Sejumlah pengarang menolaknya seba­gai terlalu antropomorf.
keterangan fungsional: mencari jawaban lewat pertanyaan mengenai cara kerja. Keterangan fungsional sering mvnggantikan keterangan fi­nal (misalnya susunan mata dijabarkan dari fungsinya).Parapositivistis logis biasanya menolak.
keterangan historis atau genetis: mengemukakan riwayat terjadinya keterangan . Misalnya  kaki kuda berasal dari jari-jari kaki kuda purba, atau geologi menjelaskan lapisan kerak bumi mema­kai konstelasi-konstelasi lebih tua. Biasanya di­lengkapi dengan keterangan kausal. Varian lebih logis terdapat pada J. Piaget : setiap keterangan logis berdasarkan keadaan seimbang, yangdicapai lewat proses perkembangan dan perbaikan;
keterangan analog memakai perbandingan dengan struktur-struktur yang lebih dikenal, misalnya mata memakai kamera, proses-proses informasi pada perusahaan memakai sistem saraf pusat manusia. dangkala lebih mirip model daripada   keterangan.
Sedangkan dalam usaha menerangkan dan memahami (verstehen) mempunyai dua arti, pertama untuk  memahami perasaan dan keadaan batin manusia. Memahami orang lain mengandaikan bahwa manusia seakan-akan dapat mengamati perasaannya sendiri atau introspeksi. Kedua, verstehen dipakai untuk menangkap arti suatu teks. Kata-kata dite­robosi untuk mengungkap makna yang tersirat. Dalam kait­an dengan verstehen , ada yang dimaksud dengan memahami sekaligus menafsirkan disebut hermeneutik.
Dapat ditarik suatu pengertian bahwa fungsi ilmu pengetahuan tidak lain adalah untuk menerangkan, memaha­mi dan meramalkan atau rnengontrol gejala alam  termasuk manusia  agar manusia bisa mengambil manfaatnya.

 III. MANFAAT DAN DAMPAK ILMU PENGETAHUAN
 A. PENGETAHUAN PEMBEBAS DAN PENGIKAT
Tidak disangkat lagi bahwa alam yang dahulunya dirasakan oleh manusia sebagai penuh rahasia terungkap oleh ilmu pengetahuan. Beberapa kebutuhan hidup manusia dan kemudahan-kemudahan telah dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Memang menurut kodratnya teknologi bertujuan membebaskan manusia dari urusan-urusan materialnya dan dalam hal ini memang semakin berhasil. Teknologi telah membebaskan manusia dari pekerjaan rutin, maka manusia sendiri semakin bebas untuk pekerjaan kreatif yang memungkinkan dia. mengembangkan dirinya kearah yang lebih baik.
Berbagai temuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa dimungkiri telah membebaskan manusia dari berbagai kesukaran hidup misalnya dengan ditemukan alat transportasi cepat, komunikasi jarak jauh, berba­gai temuan  bidang kesehatan, komputer dsb.
Dampak positif ilmu pengetahuan dan teknologi bagi umat manusia tidak bisa ditutupi lagi dan seja­rah perkembangan manusia telah membuktikan hal itu. Paling_tidak ada tiga sisi dampak ilmu pengetahuan yaitu segi teknologis, kultural dan filosofis.
Secara terurai ketiga sisi tersebut diatarakan oleh AB Shah dan dari salah satu bagian uraiannya me­nyatakan :
” Disinilah peran pembebas dari ilmu pengeta­huan yang menampilkan diri dalam perspektif sebe­narnya. Ilmu pengetahuan telah memungkinkan manu- sia tumbuh sebagai makhluk manusiawi dan bukannya sekedar segumpal protoplasma, dengan jalan membebas-­kannya dari belenggu takhayul dan prasangka. Dengan itu ia telah memungkinkan manusia memandang masalah­-masalahnya secara objektif dan mencari pemecahannya dengan cara yang berpaedah sesuai dengan martabatnya sebagai makhluk bermoral yang berpikir.
Akan tetapi rupanya efek yang terlalu besar dari pembebasan manusia akhirnya tidak terkendalikan lagi sehingga menjadi bomerang bagi manusia sendiri.
Manusia sekarang tampaknya tidak mampu lagi mem­bedakan antara ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiannya, tetapi terbalik manusia menjadi budak dari teknologi. Memang menurut Melsen bahwa salah satu sebabnya adalah      keku­rangan refleksi filosofis dan etis atas bentuk-bentuk baru di bidang ilmu pengetahuan dan praksis berarti se­gala implikasinya (van Melsen, 1985, p. 111)
Ilmu pengetahuan telah membebaskan manusia dari serba tuhan. Dahulu orang percaya bahwa alam  – matahari beredar, bulan bersinar — diatur oleh Tuhan atau dewa tertentu. Setelah ditemukannya hukum alam, segala  pe­ristiwa alam telah diterangkan oleh hukum yang sudah melekat padanya yang dapat difahami oleh akal manusia.

Perkembangan ilmu pengetahuan sedikit demi sedi­kit mengganti kedudukan takhayul dan agama. Ilmu penge­tahuan dan teknologi dapat pula menggantikan ideologi yang dianut. Ideologi lain dianggap penghambat demi pencapaian kemajuan dan kesejahteraan, demikian pula agama sehingga menimbulkan konflik-konflik ( T Jacob, 1988, P. 9).
Itulah gambaran ilmu pengetahuan don teknologi secara umum, tetapi memang diakui pula bahwa ilmu pe­ngetahuan dalam konteksnya dengan ilmuan yang melahirkannya, diantara mereka masih ada yang mempercayai a­danya Tuhan sebagaimana terlontar dari Enstien. Namun ilmu pengetahuan yang tampak hingga kini, di satu si­si membebaskan manusia dari hal-hal yang negatif, te­tapi di sisi lain mengikat manusia begitu ketat hing­ga melahirkan mazhab scientis yang-seakan-akan mempertuhankan ilmu pengetahuan.


B. TEKNOLOGI MUTAAKHIR DAN KEHANCURAN
Hakikat teknologi pada mulanya untuk membantu manusia merubah lingkungan agar bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dengan berkembangnya temuan di bidang sains maka kemajuan bidang teknologi juga canggih, akhirnya manusia hampir-hampir tidak mengenal lagi hasil kreasinya sendirij serta tidak mampu lagi mengendalikan hasil ciptaannya.
” Ilmu pengetahuan dan teknologi tumbuh dan berkembang dengan cepat melebihi daya serap otak manusia, sehingga  tidak dapat memahami seluruh produk ilmu pengetahuan kendatipun sudah memakainya, bahkan menjadi objeknya. Manusia terpragmentasi oleh ilmu pengetahuan sehingga tidak utuh la­gi, demikian pula alam lingkungannya. Mula-mula dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia hen­dak menguasai alam dan sampai batas-batas tertentu ia berhasill tetapi ia lupa bahwa ia sendiri ada­lah bagian dari alam dan turut terkuasai oleh ilmu pengetahuan” (T Jacob, 1988, p.9).
Teknologi dewasa ini sudah berada pada pase ke tiga atau tahap puncak. Pada pase pertama manusia langsung menggunakan_bahan tehnik dari alam pada zaman batu. Pada Pase kedua manusia telah meru­bah bahan alam kepada hal-hal baru, sedang pada pase ketiga manusia telah menemukan teknologi mesin yang mem­bawa kepada peradaban mesin (Sutarjo, 1983, p.102-03). Bahkan lebih puncak lagi dengan menyatunya antara ilmu pengetahuan dan teknologi, atau sebaliknya teknologi mendorong ilmu pengetahuan hingga teknologi peralatan keras telah banyak ditinggalkan oleh taknologi perangkat lunak.
Teknologi modern berbeda jauh dengan teknologi zaman lalu yang masih memberikan kebebasan memilih bagi manusia, tetapi teknologi modern membawa dan membakukan sejumlah nilai-nilainya sendiri seperti :
Otomatisisme meliputi otomatisisme dalam pemilihan metode, organisasi dan mekanisme juga mampu menghilangkan kegiatan yang bukan teknis menjadi teknis. Segala sesuatu dihitung secara metamatis sehingga tidak ada lagi tempat bagi kebebasan.
Beberapa nilai teknologi tersebut pada gilirannya sangat berbahaya dan mengancam manusia seperti tuntutan untuk terus menerus menerapkan tehnologi baru.Manusia belum sempat mengadaptasi suatu arus teknologi tiba-tiba muncul lagi teknologi baru yang meminta untuk diterapkan. Akhirnya manusia menjadi apa yang disebut T Jacob dengan techno stress yang bisa berbentuk technosnxietos yang membuat orang menentang adaptasi dan technocentredness yaitu menyebabkan orang percaya bwetul kepada teknologi.
Masa depan lebih mencemaskan lagi karena penuh schok, ketidak pastian karena lingkungan yang terlalu ce­pat berubah. Lepasnya teknologi dari laboratorium  juga dapat mendehumanisasi manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi juga dapat menggantikan kedudukan manusia sebagai pekerja yang utuh (T Jacob, 1988, p.11).
Bukan saja manusia yang terkena dampak negatif da­ri teknologi hasil ciptaannya tetapi yang paling berbahaya juga adalah kerusakan lingkungan berupa pencemaran besar-besaran serta semakin langkanya sumber daya, dsb.

C. NILAI IKUTAN ILMU PENGETAHUAN
Kehadiran ilmu pengetahuan tak bisa dipisahkan de­ngan budaya dan masyarakat pendukungnya. Dewasa ini sukar memisahkan antara masyarakat barat dengan kemajuan ilmu pengetahuan. dan teknologi sebagai cirinya.
” Dalam proses pengalihan pengetahuan dari negeri asalnya barat mau tidak mau, sadar atau tidak ikut ter­ambil pula pola pandangan hidup dan kebiasaan mereka. Adasementara nilai yang memang bertentangan dengan ke­pribadian kita bahkan bisa merusak kepribadian kita. Salah satunya adalah liberalisme dan hidonisme yang e­goistis menuntut kita mengejar kesenangan sebesar- be­sarnya selama hidup dan selama ada kesempatan yang a­khirnya membawa kepada kerakusan. Nilai lain adalah materialistis. Segala-galanya diukur secara materialis baik kemajuan, kesenangan, sukses, kebahagiaan, kese jahteraan, kualitas hidup dan sebagainya.
Nilai lain adalah sentralisasi yang mencakup efisiensi, akibatnya pengetahuan adalah menjadi appendiks pasar, ia tak bebas lagi. Nilai lain pragmatisme. Manusia. le­bih bersifat relatif terhadap apa yang terjadi tidak mengantisipasi dan menentukan pilihan sesuai dengan pandangan hidup dan cita-citanya.
Dilain pihak karena pengetahuan manusia didasarkan kepada hal-hal yang empirik, duniawil maka manusia terbi­asa ddngan hal-hal yang duniawi yang pada puncaknya mela hirkan sikap skuler, yang benar dan yang harus diyakini adalah sesuatu yang rasional dan empirik. Di luar itu ha­rus diragukan bahkan bisa ditolak.
Ciri empirik dari kebenaran ilmiah berkaitan erat dengan maknanya yang skuler dan skularisme beranggapan bahwa manusia punya hak atas kehidupan materi dan budaya yang sepenuhnya di dunia ini dengan suasana kebebasan dan harga diri bahkan etika sendiri dikaitkan dengan ide yang skuler (AB Shah, 1986, p. 28-29).
Dilain pihak ilmu pengetahuan yaag dewasa ini men­jadi semakin spesifik, sekaligus pula tertutup dengan spesifik lainnya atau disiplin menjadi saling teresolasi. Metode ilmiah membatasi diri hanya pada objek-objek yang bisa dicapai secara empiris, karena itu dia berarti menu­tup diri terhadap pengetahuan dan nilai yang tak empirik seperti yang terdapat pada kebudayaan. Keyakinan mengenai susunan alam, ajaran yang ada pada kebudayaan tentang su­sunan masyarakat semuanya — Comte – psngetahuan yang lebih bersifat teologis. Demikian pula dalam ilmu-ilmu rasional, penolakan kedudukan nilai-nilai dalam ilmu je­las pula kerena nilai bukanlah objek ilmiah        disebabkan tidak empiris (Ignas Kleden, 1987, p.xxxv-xxxvi). Pandang­an serupa ini jelas terdapat dikalangan pasitivisme.
Itulah beberapa nilai ikutan i1mu pengetahuan yang sekaligus menunjukkan kekurangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Semua itu hendaknya menjadi perhatian kita da lam mengembangkan ilmu pengetahuan yang tampaknya sulit dielakkan.



D. ILMU DAN MASA DEPAN MANUSIA
Barangkali tak seorangpun menyangkal    pentingnya ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Kalau tidak   tentu bakal terjadi benturan terhadap pelaksanaan pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan. Melalui pen­didikan diinginkan lahir sejumlah ilmuan   dan    dengan lahirnya ilmuan dapat memperoleh kemajuan kemajuan baru dalam hidup budayanya. Manusia diharapkan akan lebih sejahtera, lebih aman, lebih terpenuhi sege­nap kebutuhannya baik lahiriah maupun batiniah. Itulah bunyi harapan kepada ilmu pengetahuan yang nayatanya ma­sih mempunyai delimatis antara dampak positif dan negatif nya.Dua dampak itu — terutama yang negative — bukan epistemologi dan ontologinya, tetapi lebih ditentukan o­leh aksiologi yakni menyangkut cara pemanfaatan/penggunaan ilmu.

Sumber : http://alviyana.student.fkip.uns.ac.id
                  http://id.wikipedia.org/wiki/Etika

0 komentar:

Posting Komentar