Rabu, 14 Maret 2012

Pendekatan Induktif dan Deduktif

Pendekatan Induktif dan Deduktif
Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus (going from the general to the specific).

Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum (going from specific to the general).

Perbedaan Pendekatan Deduktif dan Induktif
Teori normatif (normative theory) menggunakan pertimbangan nilai (value judgement) yang berisi satu atau lebih premis menjelaskan cara yang seharusnya ditempuh. Sebagai contoh, premis yang menyatakan bahwa laporan akuntansi (accounting reports) seharusnya didasarkan kepada pengukuran nilai aset bersih yang bisa direalisasi (net realizable value measurements of assets) merupakan premis dari teori normatif. Sebaliknya, teori deskriptif (descriptive theory) berupaya untuk menemukan hubungan yang sebenarnya terjadi.
Meskipun terdapat pengecualian, sistem deduktif umumnya bersifat normatif dan pendekatan induktif umumnya berupaya untuk bersifat deskriptif. Hal ini karena metode deduktif pada dasarnya merupakan sistem yang tertutup dan nonempiris yang kesimpulannya secara ketat didasarkan kepada premis. Sebaliknya, karena berupaya untuk menemukan hubungan empiris, pendekatan induktif bersifat deskriptif.

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah apakah temuan riset empiris dapat bebas nilai (value-free) atau netral karena pertimbangan nilai sesungguhnya mendasari bentuk dan isi riset tersebut. Meskipun riset empiris berupaya untuk deskriptif, penelitinya tidak mungkin sepenuhnya bersikap netral dengan dipilihnya suatu permasalahan yang akan diteliti dan dirumuskannya definisi konsep yang terkait dengan permasalahan tersebut.

Perbedaan yang lebih mencolok antara sistem deduktif dan induktif adalah: kandungan atau isi (contents) teori deduktif kadang bersifat global (makro) sedangkan teori induktif umumnya bersifat partikularistik (mikro). Oleh karena premis sistem deduktif bersifat total dan menyeluruh maka kesimpulannya pasti bersifat global. Sistem induktif, karena didasarkan kepada fenomena empiris umumnya hanya berfokus kepada sebagian kecil dari fenomena tersebut yang relevan dengan permasalahan yang diamatinya.Meskipun pembedaan antara sistem deduktif dan induktif bermanfaat untuk maksud pengajaran, dalam praktek riset pembedaan ini seringkali tidak berlaku. Dengan kata lain, keduanya bukanlah pendekatan yang saling bersaing tetapi saling melengkapi (complementary) dan seringkali digunakan secara bersama. Metode induktif bisa digunakan untuk menilai ketepatan (appropriateness) premis yang pada mulanya digunakan dalam suatu sistem deduktif.

Tahapan Penelitian

Langkah tahapan penelitian. Ada sebuah istilah yang disebut “Jam Gelas“. Istilah ini memberikan gambaran gagasan atau langkah dalam penelitian. Langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Sebuah penelitian diawali dengan pertanyaan yang umum/luas. Cakupannya secara global.
b. Dari pertanyaan yang umum tadi, pertanyaan selanjutnya dipersempit untuk mendapatkan sesuatu yang lebih spesifik.
c. Fokus dalam mengoperasionalkan penelitian.
d. Melakukan observasi.
e. Dari hasil observasi dialakukan analisa data.
f. Hasil analisa data dapat memberikan suatu kesimpulan.
g. Setelah diperoleh kesimpulan dari penelitian, kita kembalikan ke pertanyaan penelitian di awal. Apakah kesimpulan yang diperoleh telah menjawab pertanyaan penelitian. Jika kesimpulan belum dapat menjawab pertanyaan penelitian, maka langkah riset yang dilakukan dianggap gagal. Dan begitu juga sebaliknya, hendaknya suatu kesimpulan adalah solusi dari pertanyaan penelitian.

Rumusan Masalah
Pemilihan masalah penelitian merupakan tahap yang penting dalam melakukan penelitian, karena pada hakekatnya penelitian dilakukan untuk menjawab masalah penelitian. Kesalahan merumuskan masalah penelitian akan mempengaruhi pada hasil penelitian. Perumusan masalah dapat dilakukan dengan melakukan pengumpulan data awal melalui telaah literatur dan survei serta observasi dalam rangka menemukan masalah. Salah satu cara untuk membuat perumusan masalah yang baik ialah dengan melakukan proses penyempitan masalah dari yang sangat umum menjadi lebih khusus dan pada akhirnya menjadi masalah yang spesifik dan siap untuk diteliti.

KRITRIA PEMILIHAN MASALAH
Kriteria dalam melakukan pemilihan dan perumusan masalah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik untuk diteliti. Masalah dikatakan menarik untuk diteliti jika masalah memiliki kontribusi yang signifikasi terhadap teori maupun praktis.
Signifikansi terhadap teori maksudnya adalah :
• Hasil penelitian memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian dapat memverivikasi teori atau membangun teori.
• Pihak yang terkait dan tertarik bidang penelitian si peneliti mengakui bahwa penelitian tersebut merupakan penelitian yang penting untuk dilakukan
• Hasil penelitian layak untuk dipublikasikan

1. Masalah dapat dirumuskan secara jelas dan tidak bermakna ganda (ambiguity). Masalah dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan penelitian atau dengan pertanyaan penelitian. Bentuk pertanyaan penelitian lebih umum digunakan daripada bentuk pernyataan penelitian.

1. Masalah tersebut dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis data Masalah harus dapat diuji dengan menggunakan metode empiris, yaitu dimungkinkan adanya pengumpulan data yang akan digunakan sebagai bahan untuk menjawab masalah yang sedang diteliti.

1. Masalah yang dipecahkan sesuai dengan waktu dan biaya yang tersedia Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab oleh seorang peneliti jika ingin mengetahui kelayakan masalah yang dipilih: 1) apakah masalah tersebut dalam jangkauan peneliti? 2) apakah peneliti mempunyai cukup waktu untuk melakukan penelitian dengan persoalan tersebut? 3) apakah peneliti dapat mengakses data akan digunakan? 4) apakah peneliti memiliki alasan khusus yang dapat dipercaya untuk memperoleh jawaban dari masalah yang rumuskan? 5) apakah metode yang diperlukan sudah dikuasai?

1. Kemampuan peneliti untuk melakukan penelitian terhadap masalah yang dirumuskan. Dalam memilih masalah peneliti perlu mempertimbangkan masalah terebut dengan kemampuan pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya. Apakah latar belakang peneliti mendukung penelitian yang akan dilakukan.

PERUMUSAN MASALAH
Strategi untuk merumuskan masalah dapat menggunakan pedoman yaitu:
• Perumusan masalah dengan mengeksperisian hubungan antar dua variabel atau lebih
• Masalah dirumuskan secara jelas, Jika perumusan masalah dalam bentuk pertanyaan penelitian maka pertanyaan penelitian itu dapat dipahami.

KESALAHAN UMUM DALAM PERUMUSAN MASALAH
1. Peneliti mengumpulkan data tanpa rencana atau tujuan penelitian yang jelas
2. Peneliti memperoleh data dan berusaha untuk merumuskan masalah penelitian hanya didasarkan data yang ada
3. Peneliti merumuskan masalah penelitian terlalu umum dan ambiguitas yang menyulitkan interpretasi serta pembuatan kesimpulan
4. Peneliti menemukan masalah tetapi tidak melakukan literatur review terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya
5. Masalah yang dirumuskan kurang memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori.

0 komentar:

Poskan Komentar