Minggu, 07 Maret 2010

Modal Auxiliaries

The modal auxiliary verbs adalah kata-kata seperti can, will, shall, may, might, should, ought to, must, could yang digunakan bersama dengan kata kerja dan ditempatkan di depan subyek.
The Modal auxiliary verb dan kata kerja yang mengikutinya tidak mengalami perubahan untuk orang dan jumlah
The modal auxiliary verb ditempatkan segera sesudah subyek kalimat.
  1. Will (Future)
    • They will come here on time
  2. Can (ability, permission)
    • He can play the pino. (ability)
    • They can play football here. (Permission)
  3. Could (ability in the past, possibility)
    • She could climb when she wa still young. (ability in the past)
    • She could come in a minute. (possibility)
  4. Must (conclusion, probability, necessity)
    • He must be twenty years old. (conclusion, probability)
    • You must be hungry. (conclusion, probability)
    • You must study tonight.
  5. Might (Possibility)
    • He might get a rise in his salary. (possibility)
  6. Should/ought to (obligation, desirability)
    • Students ought to/should study regularly. (obligation)
    • You ought not to/shouldn’t drink and drive. (desirability)
  7. May (Pemission, possibility)
    • The children may play here. (permission)
    • He may get a raise. (possibility)
1. have … go down tomorrow.
2. Tom can … play soccer.
3. Could you please … open the window?
4.Would you … speak more slowly, please?
5. We may … go to Argentina for our vacation.
6. Will you please … mail this letter for me?
7. The students must … learn all of the irregular verbs.
8. Sally has … do her history.
9. I think you should … take better care of yourself.
10. I ought … go to the office this afternoon.


Sumber :

http://jaka91.ngeblogs.com/2010/03/08/modal-auxiliaries/

Command And Request

Command and Request
definition and example
-A command is a sentence that orders someone to do something. It ends with a period(.) or an exclamation mark(!)
Example:
Go to your school !
Call the police!
-A request is a sentence that asks someone to do something. It ends with a period (.) or a question mark(?).
Example:
Could you cLose the door?
Please close the door.
Usually we are told in the language or command to do something called a command line / request (Command and Request).
“The words” messenger thats plus with “lah” and ends with an exclamation point (!) Is like “duduklah!” or “pergilah!”.
In English, the word “Lah” did not exist. So if we want to get someone to do something, only the verb are placed in front of the sentence itself is getting the meaning of “Lah” in the sentence.
example:
Come here! It means let’s here!
Try to speak in english! That means try to speak English!
Study diligently! Means diligently learn!
If the sentence is not a verb, then use “be” in front of the sentence because it is the verb to be. But this “be” has nothing mean / translation.
example:
Be good to her! Well-meaning very well to him!
Be diligent! Means to be diligent!



Sumber :
http://www.wartawarga.gunadarma.ac.id

Kamis, 18 Februari 2010

Adjective Clause


ADJECTIVE CLAUSE
Adjective Clause adalah clausa yang fungsinya menerangkan kata benda.
Pengertian Adjective Clause di bagi menjadi 2 yaitu :
- Adjective adalah Part of word clause that modifies noun
- Clause adalah kombinasi dari subjek dan predikat tetapi tidak dapat berfungsi.
adjective clause adalah klausa yang digunakan sebagai adjective. Sebagai adjective, adjective clause digunakan sebagai modifier yaitu untuk menerangkan noun dan pronoun, tetapi tidak pernah digunakan sebagai object kalimat.
Adjective clause dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Important (defining) adjective clause, yaitu adjective clause yang merupakan informasi penting bagi antecedent.
2. Unimportant (undefining) adjective clause, yaitu adjective clause yang merupakan informasi yang tidak penting bagi antece
Clause ini digunakan untuk memberi keterangan, identitas, dan informasi lain kepada katabenda (Antecedent). Dalam struktur Adjective Clause ditandai dengan Relative Pronoun, yaitu: who, whom, whose, which.
- Who
digunakan untuk orang dalam posisi subjek (human as subject).
- Whom
digunakan untuk orang dalam posisi objek (human as object).
- Which
digunakan untuk benda, baik dalam posisi subjek atau objek (non-human as subject/objek)
- Whose
digunakan untuk kepemilikan
Contoh dari Adjective Clause :
1. Who
The student who doesn’t study seriously will not pass.
2. Whom
The girl whom I introduce to you last week is my student
3. Which
The animal which runs quicly named lion.
4. Whom
The student whose hat is yellow is lazy student
Contoh:
* what she is reading
* that she is reading
* what you did last summer
* that you did last summer

Sumber :

Rabu, 18 November 2009

Upacara Kebo-keboan pada Masyarakat Using (Banyuwangi, Jawa Timur)


Pengantar
Banyuwangi adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Di sana ada sebuah etnik yang bernama Using[1]. Di kalangan mereka, khususnya yang berdiam di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, ada sebuah upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan bidang pertanian yang disebut sebagai “Kebo-keboan”.
Maksud diadakannya upacara itu adalah untuk meminta kesuburan tanah, panen melimpah, serta terhindar dari malapetaka baik yang akan menimpa tanaman maupun manusia yang mengerjakannya.
Sejak kapan upacara kebo-keboan diadakan? Sampai kini belum ada yang mengetahuinya secara pasti. Namun, menurut cerita yang berkembang secara turun-temurun di kalangan masyarakat Krajan, kisah dibalik adanya upacara kebo-keboan tersebut berawal ketika Dusun Krajan mengalami pagebluk, yaitu timbulnya berbagai macam hama penyakit yang menyebabkan kematian tanaman pertanian. Untuk mengatasi bencana tersebut, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang bernama Buyut Karti mengadakan ritual dengan cara menirukan perilaku seekor kerbau yang sedang membajak sawah. Dan, ternyata ritual tersebut mampu menjadi penghalau dari berbagai macam bencana yang menimpa Dusun Krajan. Akhirnya, ritual yang kemudian dinamakan kebo-keboan itu dilakukan secara rutin setiap tahun sekali.
Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara
Upacara kebo-kebon di Dusun Krajan dilaksanakan satu kali dalam satu tahun yang jatuh pada hari Minggu antara tanggal 1 sampai 10 Sura (tanpa melihat hari pasaran). Dipilihnya hari minggu sebagai hari penyelenggaraan dengan pertimbangan bahwa pada hari tersebut masyarakat sedang tidak bekerja (libur), sehingga dapat mengikuti jalannya upacara. Sedangkan, dipilihnya bulan Sura dengan pertimbangan bahwa Sura, menurut kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, adalah bulan yang keramat.
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara kebo-keboan di Krajan juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap selamatan di Petaunan; (2) tahap ider bumi atau arak-arakan mengelilingi Dusun Krajan; dan (3) tahap ritual kebo-keboan yang dilaksanakan di daerah persawahan Dusun Krajan.
Pemimpin dalam upacara kebo-keboan ini bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan. Pada tahap selamatan di Petaunan, yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah kepala Dusun Krajan. Sedangkan, yang bertindak sebagai pemimpin upacara saat mengadakan ritual ider bumi dan kebo-keboan adalah seorang pawang yang dianggap sebagai orang yang ahli dalam memanggil roh-roh para leluhur.
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah: (1) para aparat Dusun Krajan; (2) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Alasmalang; (3) empat orang atau lebih yang nantinya akan menjadi kebo-keboan dan (4) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.
Jalannya Upacara
Satu minggu menjelang waktu upacara kebo-keboan tiba, warga masyarakat yang berada di Dusun Krajan mengadakan kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan rumah dan dusunnya. Selanjutnya, satu hari menjelang pelaksanaan upacara, para ibu bersama-sama mempersiapkan sesajen yang terdiri atas: tumpeng, peras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang, inkung ayam dan lain sebagainya. Selain itu, dipersiapkan pula berbagai perlengkapan upacara seperti para bungkil, singkal, pacul, pera, pitung tawar, beras, pisang, kelapa dan bibit tanaman padi. Seluruh sesajen tersebut selain untuk acara selamatan, nantinya juga akan ditempatkan di setiap perempatan jalan yang ada di Dusun Krajan.
Pada malam harinya para pemuda menyiapkan berbagai macam hasil tanaman palawija seperti pisang, tebu, ketela pohon, jagung, pala gumantung, pala kependhem, pala kesimpar. Tanaman tersebut kemudian ditanam kembali di sepanjang jalan Dusun Krajan. Selain itu, mereka mempersiapkan pula bendungan yang nantinya akan digunakan untuk mengairi tanaman palawija yang ditanam.
Pagi harinya, sekitar pukul 08.00, diadakan upacara di Petaunan yang dihadiri oleh panitia upacara, sesepuh dusun, modin, dan beberapa warga masyarakat Krajan. Pelaksanaan upacara di tempat ini berlangsung cukup sederhana, yaitu hanya berupa kata sambutan dari pihak panitia upacara, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh modin dan diakhiri dengan makan bersama.
Selanjutnya, para peserta upacara yang terdiri dari para sesepuh dusun, seorang pawang, perangkat dusun, dua pasang kebo-keboan (setiap kebo-keboan berjumlah dua orang), para pembawa sesajen, pemain musik hadrah, pemain barongan dan warga Dusun Krajan akan melakukan pawai ider bumi mengeliling Dusun Krajan. Pawai ini dimulai di Petaunan kemudian menuju ke bendungan air yang berada di ujung jalan Dusun Krajan. Sesampainya di bendungan, jagatirta (petugas pengatur air) akan segera membuka bendungan sehingga air mengalir ke sepanjang jalan dusun yang sebelumnya telah ditanami tanaman palawija oleh para pemuda. Sementara, para peserta upacara segera menuju ke areal persawahan milik warga Dusun Krajan. Di persawahan inilah kebo-keboan tersebut memulai memperlihatkan perilakunya yang mirip seperti seekor kerbau yang sedang membajak atau berkubang di sawah. Pada saat kebo-keboan sedang berkubang, sebagian peserta upacara segera turun ke sawah untuk menanam benih padi.
Setelah benih tertanam, para peserta yang lain segera berebut untuk mengambil benih padi yang baru ditanam tersebut. Benih-benih yang baru ditanam itu dipercaya oleh warga masyarakat Dusun Krajan dapat dijadikan sebagai penolak bala, mendatangkan keberuntungan serta membawa berkah. Pada saat para peserta memperebutkan benih tersebut, para kebo-keboan yang sebelumnya telah dimantrai oleh pawang sehingga menjadi trance, akan segera mengejar para pengambil benih yang dianggap sebagai pengganggu. Namun, para kebo-keboan itu tidak sampai mencelakai para pengambil benih karena sang pawang selalu mengawasi setiap geraknya. Setelah dirasa cukup, maka sang pawang akan menyadarkan kebo-keboan dengan cara mengusapkan pitung tawar pada bagian kepalanya. Setelah itu, mereka kembali lagi ke Petaunan.
Sebagai catatan, sebelum tahun 1965 pelaksanaan ider bumi tidak hanya mengelilingi sepanjang jalan Dusun Krajan saja, melainkan juga ke arah batu besar yang ada di empat penjuru angin yang diawali dengan berjalan ke arah timur menuju Watu Lasa, kemudian ke barat menuju Watu Karang, lalu ke selatan menuju Watu Gajah dan ke arah utara menuju Watu Naga.
Sesampainya di Petaunan, peserta upacara kembali ke rumah masing-masing sambil membawa padi yang tadi mereka ambil di sawah untuk dijadikan sebagai penolak bala dan juga sekaligus pembawa berkah. Malam harinya, mereka kembali lagi ke Petaunan untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan lakon Sri Mulih yang mengisahkan tentang Dewi Sri. Lakon tersebut dipentaskan dengan harapan agar warga Dusun Krajan mendapatkan hasil panen padi yang melimpah. Dan, dengan dipentaskannya kesenian wayang kulit di Petaunan itu, maka berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara kebo-keboan di Dusun Krajan.
Nilai Budaya
Upacara kebo-keboan di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kabupaten Banyuwangi, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.
Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.
Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.
Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan.
Sumber:
Purwaningsih, Ernawati. 2007. “Kebo-keboan, Aset Budaya di Kabupaten Banyuwangi”, dalam Jantra Vol. 2 No. 4. Desember 2007. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Wahjudi Pantja Sunjata, 2007. Fungsi dan Makna Upacara Tradisional Kebo-keboan. Yogyakarta: Eja Publisher.

jawa tengah adalah propinsi dimana budaya jawa banyak berkembag disini karena di jawa tengah dahulu banyak kerajaan berdiri disini itu terlihat dari berbagai peninggalan candi di jawa tengah.
mahakarya yang sungguh mempesona adalah batik di jawa tengah setiap daerah mempunya corak batik tulis yang berbeda beda mereka mempunyai ciri khas sendiri sendiri selain batik ada juga kesenian yang tak kalah luar biasanaya ada wayang kulit yang sudah dia kaui dunia sebagai warisan budaya dunia oleh unesco ada juga tembang tembang (lagu lagu ) jawa yang diiringi oleh gamelan (alat musik) yang juga dikenal dengan campursariada juga ketoprak yang merupakan pertunjukan seni peran khas dari jawa
di jawa tengah juga masih ada kerjaan yang samapai sekarang masih berdiri tepatnya dikota solo yang dikenal dengan kasunanan solo
budaya jawa tengah sungguh banyak mulai dari wayang ,wayang orang, ketoprak,tari dan masih banyak lagi berikut beberapa foto terkait budaya jawa tengah :
kraton_solo_centraljava-surakarta
kraton_solo_centraljava-surakarta
batik
batik
ketoprak
ketoprak
pagelaran wayang kulit
pagelaran wayang kulit
tari srikandi/ tari panah
tari srikandi/ tari panah
ph_gamelan
pertujukan wayang orang
pertujukan wayang orang
sinden
sinden
tayub
tayub
Batik
Batik
adat jawa
adat jawa
keris
keris

Tata cara pernikahan ala jepang


Perayaan Pernikahan di Jepang


pernikahan jepang | japanese weddingPernikahan Tradisional Jepang dilangsungkan di Kuil dengan Sistem Budha atau lebih dikenal dengan Pernikahan Shinto. Dalam adat ini, pasangan pengantin memakai pakaian tradisional Kimono. Pengantin perempuan memakai kimono tradisional pernikahan, shiromuku (kimono putih), sedang pengantin laki-laki memakai montsuki haori hakama. Pernikahan Gaya Shinto dipimpin Pendeta dengan hanya diikuti anggota keluarga dan kerabat dekat.
Upacara Shinto :


Couple married in a shinto ceremony in Takayam...
Image via Wikipedia
Upacara dimulai dengan perkenalan pihak perempuan dan laki-laki. Setelah itu makan bersama dan menyaksikan penampilan anggota keluarga lain yang bernyanyi, berpidato dan lain-lain. Selama perayaan, pengantin biasanya berganti-ganti busana. Di akhir acara, pengantin akan berpidato dan mengucapkan terima kasih.

  • Tata cara modern

Pernikahan Modern Jepang biasanya dilangsungkan di gereja dengan sistem agama Kristen meski keduanya tidak beragama kristen. Pernikahan ini juga tetap dipimpin seorang pendeta. Dalam pernikahan modern, pasangan pengantin biasanya menggunakan Gaun Pengantin Putih. Selain itu ada juga upacara pemotongan kue, pertukaran cincin honeymoons dan prosesi pernikahan Barat lainnya.
Pernikahan Modern Jepang :
pernikahan jepang |modern japanese wedding
Pernikahan Gaya Jepang Barat ini kebanyakan diadakan di hotel atau ruang pernikahan. Chapels biasanya jadi pilihan terbanyak. Para pengantin juga diijinkan memilih gaya upacara mereka, mau gaya Kristen, Budha, Shinto, dan non-agama gaya. Kebanyakan pasangan non kristen adakan upacara di chapels.
Sovenir Pernikahan | Sujeo :
sujeo | sovenir pernikahan jepang
Souvenir pernikahan jepang disebut Hikidemono, sovenir ini dimasukkan dalam tas untuk dibawa tamu pulang. Ada kebudayaan Jepang yang bernama Sujeo. Sujeo adalah satu set alat makan dalam tradisi kuliner Korea yang terdiri dari sendok dan sumpit. Sovenir pernikahan ini dipandang sebagai alat terpenting dalam kehidupan, sekaligus lambang kehidupan yang makmur.
Upacara Perayaan Pernikahan di Jepang :
  • Saat terima undangan pernikahan, jangan lupa mengembalikan kartu itu. Ini supaya mereka tau kita bisa datang atau tidak. Contreng kata datang bila hadir, atau sebaliknya.
  • Saat dateng ke Perayaan Pernikahan di Jepang, jangan lupa buat ngebawa uang tunai buat hadiah. Jumlahnya tergantung dari kedekatan kalian dengan yang menikah dan daerahnya. Kadang jumlah uang angpao udah tertera di undangan. Rata-rata kalo buat pernikahan seorang teman adalah 30000 yen. (Sttt.. kalo dirupiahin jumlahnya 3 juta tuw satu orang). Uang dimasukkan dalam amplop khusus yang disebut Shugi-buruko, yang bagian depannya ditulisi nama kalian.
  • Untuk dress code pernikahan jepang, tamu cewek biasanya pake kimono dan yang cowok pake’ pakaian hitam formal.
  • Begitu nyampe di tempat pesta, kalian musti kasih amplop uang ke orang di meja terima tamu, terus ngisi buku tamu.
Semoga informasi diatas berguna yach buat kalian yang menetap di Jepang. Oh iya, sekalian, mohon maaf jika ada kesalahan penyebutan kata dalam bahasa jepang.

Senin, 09 November 2009

Pakaian adat Masyarakat Betawi

Betawi memang memiliki berbagai macam kebudayaan, sampai budaya berpakaian masyarakatnya pun memiliki berbagai macam jenis. Sesuai dengan kesempatan memakainya, pakaian betawi dibagi menjadi pakaian sehari-hari, pakaian setengah resmi dan pakaian resmi.
Pakaian sehari-hari pria Betawi yaitu berupa baju koko atau sadariah, celana batik, kain pelekat dan peci atau kopiah. Pakaian seperti itu dapat pula dikenakan pada pertemuan-pertemuan tidak resmi antar keluarga atau kenalan, bahkan di daerah pinggiran pakian ini dikenakan sebagai pakain resmi. Sedangkan untuk wanitanya menggunakan baju kurung berlengan pendek kadang-kadang besaku di bagian depan dan lengkap dengan kain batik sarung, ada yang menggunakan kerudung ada yang tidak. Adapun pakaian sehari-hari yang dipakai masyarakat betawi saat bekerja di sawah, untuk laki-lakinya berupa: celana panjang kompramg (longgar), kain celana lebar hingga betis, baju biasa dan kadang bersarung di pinggang. Sedangkan untuk wanitanya berupa: kain hingga ke betis, baju biasa dan tudung (topi lebar). Sedangkan pakaian yang dipakai saat sembahyang untuk laki-laki berupa: sarung, baju panjag dan peci hitam, untuk wanitanya: sarung dan mukena.
Pakaian resmi pria Betawi berupa jas tutup panjang beberapa senti di atas lutut dengan kerah model baju cina “Lokcan”, selendang yang dililitkan di pinggang, tutup kepala batik yang berbentuk khasdisebut liskol, dan piso raut yaitu semacam badik yang diselipkan di pinggang kiri sebelah depan serta dengan sepatu fantovel. Pakaian ini lebih dikenal sebagai pakaian Abang Jakarta yang biasa dipakai pemuda atau remaja.
Pakaian resmi wanita Betawi berupa kebaya encim yaitu kebaya panjang di bagian depan. Menggunakan kutang Menek yang dibordir berlubang-lubang dengan warna kebaya yang cerah dengan warna bordiran putih. Kain yang digunakan adalah kain batik jelamprang Pekalongan, dengan motif mata tumbak atau gigi belalang dan digunakan sampai ke mata kaki. Rambutnya disanggul yang tidak terlalu besar di atas tengkuk dan dihias dengan tusuk konde dan bunga warna putih. Konde ini bisa disebut dengan konde cepol. Warna selendang yang sering digunakan dan biasa berfungsi sebagai kerudung tidak terlalu diserasikan dengan kebaya, melainkan kontras atau mencolok. Tak lupa dilenggkapi dengan selop. Pakain seperti ini lebih dikenal dengan pakaian None Jakarta.
Pakaian laki-laki, disebut Ujung Serong dan biasa dipakai bapak-bapak. Pakaian ini berupa setelan jas warna gelap, celan pantalon, dilengkapi kain batik yang dikenakan di sekitar pinggang yang ujungnya serong di atas lutut, aksesoris kuku macan dan jam saku rantai. Juga dikenakan tutup kepala liskol atau kopiah dan tak lupa alas kaki sepatu fantovel. Model pakaian ini adalah pakaian demang (pejabat daerah) pada zaman dahulu dan sekarang masih dikenakan sebagai pakaian resmi pejabat DKI dalam acara-acara tertentu.
Pakaian wanita dewasa atau disebut kebaya panjang Nyak, yaitu berupa kebaya panjang di atas lutut dan sedikit berbelah di bagian depan dengan penggiran (gir) dari sutra atau bahan tebal maupun tipis. Juga dilengkapi dengan selendang yang biasa digunakan sebagai kerudung dan juga dilengkapi dengan kutang berkancing sampai kepinggul dan memakai pending (ban pinggang) dari emas atau perak. Kain sarung yang digunakan tidak diwiru/diwiron sebagaimana pakaian daerah umumnya, untuk ibu-ibu muda warna kain yang digunakan cerah, sedangkan ibu-ibu berusia lanjut menggunakan warna gelap.
Pakaian khas Betawi dikenakan sesuai dengan tingkat sosial dan jabatannya. Mereka yang berpangkat ajudan ke atas menggunakan celana dan baju laken. Kain sarungnya dilipat ke atas setinggi lutut dan bersepatu. Bajunya memakai pelesir renda pada bagian leher dan lengannya. Juga menggunakan ikat kepala dengan gaya bungkus kul tetapi tidak memakai keris. Sedangkan bek dan bawahannya juga menggunakan celana panjang, sarumg dilipat ke atas sampai lutut. Memakai ikat pinggang yang mudah dilepaskan. Bajunya mirip dengan kebaya atau setengah jas, ikat kepalanya bergaya colak-calik atau bungkus kul. Tidak memakai sepatu. Ciri khas mereka ditandai dengan arloji berantai.

Sumber : Ensiklopedi Jakarta Jilid I